feels good

Soal Password, Indonesia Negara Terlemah


Password yang dibuat oleh pemilik akun email dengan usia 55 tahun ternyata lebih kuat alias sukar ditebak dibandingkan pemilik akun email berusia 25 tahun.

Ini terungkap dari sebuah studi terhadap keamanan password yang dipimpin oleh Joseph Bonneau, peneliti komputer dari University of Cambridge.

Studi tersebut menemukan bahwa sebagian besar pengguna dengan usia lebih muda memilih password yang kurang aman dibandingkan yang direkomendasikan ahli keamanan.

Hasil penelitian ini juga menghasilkan kesimpulan pengguna dari Jerman dan Korea menggunakan password yang paling kuat, sedangkan Indonesia adalah yang paling lemah.

Selain itu, didapat fakta bahwa orang yang memiliki kartu kredit akan memilih password yang lebih kuat, selain password standar "123456". Orang yang rajin mengganti password dari waktu ke waktu ternyata memiliki password yang lebih kuat dibandingkan yang jarang mengganti password.

Joseph Bonneau  mendapat kesempatan menganalisis password dari 70 juta pengguna Yahoo. Data-data tersebut diproteksi dengan teknik keamanan bernama hashing untuk memastikan ia tidak memiliki akses untuk masuk ke masing-masing akun. Ia hanya mengkalkulasi kekuatan password untuk kelompok demografis yang berbeda.

Cracking Bit


Bonneau menemukan bahwa pengguna yang memiliki password dengan kekuatan kurang dari 10 bit akan memiliki kemungkinan untuk diserang karena penyerang hanya memiliki 1000 kemungkinan password yang dicobanya.

Menurut Bonneau, 6 karakter password harus terdiri atas angka dan kombinasi huruf untuk menghasilkan keamanan sebesar 32 bit. Ia juga menyarankan untuk membuat 9 digit nomor sebagai pengganti password yang akan meningkatkan keamanan rata-rata.

Bonneau mempresentasikan temuan ini dalam Symposium on Security and Privacy di San Francisco, California, pada 23 Mei 2012 lalu.

"Ini adalah salah satu studi langka didasarkan pada daftar password yang secara aktif digunakan dan telah diperoleh secara sah," ungkap Lujo Bauer, yang mempelajari password di Carnegie Mellon University di Pittsburgh, Pennsylvania.

Bauer mengatakan hal tersebut karena kebanyakan penelitian didasarkan pada database yang bocor, yang mungkin tidak lengkap. Sedangkan penelitian Bonneau justru dari database resmi yang digunakan secara sah.Sumber

"Flame" dan Ancaman Perang Cyber Global


Penemuan virus komputer Flame, yang tersebar tak terdeteksi selama bertahun-tahun di Timur Tengah, menunjukkan dunia telah memasuki era baru spionase dan sabotase global.
Para pengamat dunia siber mengatakan, Flame adalah perangkat lunak jahat (malware) yang bisa diadaptasi dan disebarkan ke berbagai infrastruktur vital di seluruh negara di dunia.
Para pejabat Iran, negara yang diduga menjadi sasaran utama serangan Flame, mengatakan, virus itu sempat menyerang sektor industri minyak Iran, pertengahan April. Serangan itu memicu para teknisi Iran memutus seluruh koneksi internet di kantor kementerian perminyakan, anjungan-anjungan pengeboran minyak, dan terminal minyak di Pulau Khark.

Terminal minyak Pulau Khark adalah pintu ekspor bagi sekitar 80 persen total produksi minyak Iran sebesar 2,2 juta barrel per hari.
”Virus ini menembus berbagai sektor, salah satunya sektor industri minyak. Untungnya kami berhasil mendeteksi dan mengendalikan satu insiden ini,” kata Gholam Reza Jalali, komandan unit antisabotase militer Iran, Rabu (30/5).
Menurut Jalali, sektor industri minyak adalah satu-satunya institusi Pemerintah Iran yang terkena dampak serius serangan Flame, dan saat ini semua data yang hilang telah dipulihkan.
Virus itu pertama kali ditemukan dan diberi nama ”Flame” oleh Kaspersky Lab. Perusahaan keamanan komputer asal Rusia itu memburu virus tersebut beberapa bulan terakhir atas permintaan Uni Telekomunikasi Internasional (ITU), badan PBB yang mengatur teknologi informasi dan komunikasi di dunia.
Marco Obiso, koordinator bidang keamanan siber ITU, mengatakan, virus baru ini sangat kompleks dan canggih. Ukuran virus tersebut mencapai 20 megabyte, atau sekitar 20-30 kali lipat lebih besar dari ukuran file virus biasa.

Rangkaian serangan
Flame memiliki kemampuan memata-matai hampir seluruh aktivitas dan mencuri data komputer yang terinfeksi. Mulai dari merekam ketikan tombol-tombol di papan ketik (keystrokes), merekam tampilan layar yang sedang dibuka, sampai mengaktifkan mikrofon internal komputer (seperti terpasang di laptop atau webcam) untuk menguping pembicaraan pengguna komputer.
Selain itu, virus tersebut juga mampu mengaktifkan koneksi Bluetooth komputer dan membuat sambungan ke seluruh telepon seluler di sekitar komputer untuk mencuri berbagai data, seperti daftar kontak pribadi.
Pendiri Kaspersky Lab, Eugene Kaspersky, mengatakan, Flame diduga kuat masih satu rangkaian dengan serangan virus Stuxnet dan Duqu yang lebih dulu ditemukan.
Dua tahun lalu, fasilitas pengayaan nuklir Iran diserang virus Stuxnet. Virus tersebut mengacaukan sistem kontrol alat centrifuge sehingga berputar tak terkendali dan akhirnya rusak. Akibat serangan itu, program nuklir Iran sempat terhenti beberapa waktu.

”Stuxnet dan Duqu adalah satu rangkaian serangan, yang memunculkan kekhawatiran soal perang siber global. Malware Flame sepertinya fase lanjut dari serangan ini, dan mudah dipahami bahwa senjata siber seperti itu bisa dengan mudah digunakan untuk menyerang negara mana pun,” ujar Kaspersky.
Berbeda dengan senjata konvensional yang membutuhkan sumber daya khusus untuk membuatnya, virus komputer pada prinsipnya bisa digunakan dan dimodifikasi oleh setiap orang dengan kemampuan pemrograman komputer.
”Yang menakutkan, negara tak lagi bisa memonopoli kemampuan ini,” tutur Tom Kellerman, mantan komisaris dewan keamanan siber untuk Presiden AS Barack Obama. (AFP/AP/CNNMoney/DHF)

Sumber
VISUALISASI MEDAN LISTRIK IMPULS PETIR SESAAT PASCASAMBARAN PETIR (t = 0+) KE SUTET 500 kV, 50 Hz UNTUK MENGETAHUI TEGANGAN PENYALAANTulisan ini mendeskripsikan cara untuk mendapatkan besaran (magnitud) tegangan penyalaan untuk beberapa objek yang hadir di bawah SUTET 500 kV, 50 Hz, sesaat pascasambaran petir (t = 0+).
Objek yang diamati diantaranya adalah tegangan penyalaan untuk kendaraan pengangkut bahan bakar cair premium / premix dan gas LPG.
Tegangan penyalaan disetiap titik titik contour gradien tegangan ditentukan melalui pemetaan visualisasi medan listrik bentang samping (lateral distance) akan disajikan dlam tulisan ini.
Sumber
POTENSI PENYALAAN BAHAN BAKAR TERHADAP INVANSI DARI SUATU KAWASAN BERMEDAN LITRIK TINGGI
Aspek penyalaan bahan bakar terhadap fenomena elektrostatik berintensitas medan tinggi merupakan insiden luah percik kapasitip (capacitive spark discharge). Di sisi lain bahan bakar yang mudah terbakar (premium, premix, pertamax, dan gas LPG) mempunyai sifat gampang menyala (flammable). Sifat flammable ini terjadi karena bahan bakar cair mempunyai potensi berkondisi stoichiometric -mixture terhadap udara disekitarnya.
Makalah ini memcoba memprediksi energi penyalaan (Ue) melalui parameter medan listrik (E), kapasitans objek terhadap tanah (Cog) dan luasan eqivalen dari permukaan effektiv objek (S) serta membandingkan nilai Up dengan energi minimum penyalaan (EMP) yang paling mungkin dapat terjadi melalui parameter kapasitans objek Cog.
Sumber

Ikan Indonesia Terus Dicuri

JAKARTA, — Pencurian ikan yang melibatkan nelayan asing terus terjadi di wilayah perairan Indonesia. Selain karena lemahnya pengawasan instansi terkait, hal itu tak lepas dari kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai. Bahkan, belakangan, pencurian ikan melebar ke tindak penyelundupan. Modusnya, hasil tangkapan nelayan asing tersebut diselundupkan kembali ke wilayah RI, seperti yang marak terjadi di Kalimantan Barat. Keterangan yang dihimpun dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta para pemangku kepentingan, Sabtu-Minggu (2-3/6/2012), menunjukkan, kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing mencapai Rp 30 triliun per tahun. Penjarahan terutama terjadi di Laut China Selatan, Arafuru, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Kepala Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Medan Mukhtar mengungkapkan, selama tahun 2011 terdapat 13 kapal asing yang ditangkap aparat di perairan Selat Malaka. Tahun 2012, sejak Januari hingga Mei saja, telah ditangkap 7 kapal nelayan asing. Salah satunya adalah kapal motor PKFA 8096 yang dinakhodai Soe Min Lat, berkebangsaan Myanmar. Kapal berbendera Malaysia ini ditangkap Rabu lalu di Selat Malaka. Selama ini, sanksi terhadap nelayan asing tersebut berupa penyitaan kapal.

Nakhodanya dipenjara sesuai dengan putusan pengadilan antara 3 bulan dan 1 tahun. Sanksi ini tidak membuat jera nelayan asing. ”Buktinya, masih terus terjadi penangkapan ikan ilegal di perairan Indonesia,” ujar Mukhtar. Namun, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Medan Zulfahri Siagian menilai, nelayan asing tidak jera antara lain karena kapal hasil sitaan dijual murah. Kapal sitaan berukuran 60-70 gros ton (GT) hanya dilelang seharga maksimal Rp 70 juta. Padahal, harga normalnya mencapai Rp 700 juta per kapal. Zulfahri menambahkan, kerugian Indonesia semakin besar lantaran ada pihak-pihak tertentu yang diduga bekerja untuk nelayan asing. Dia mencontohkan, kapal-kapal yang disita dan dilelang tidak kelihatan lagi di Indonesia. Sebab, lanjut Zulfahri, oknum yang ikut dalam lelang kapal tersebut diduga mengirim kembali kapal itu ke negara asal setelah membelinya dengan harga murah. Padahal, kapal-kapal tersebut mestinya digunakan untuk nelayan Indonesia. Mukhtar juga mengakui, Pemerintah Indonesia kerap direpotkan oleh para anak buah kapal asing itu.

Saat ini, pascaproses hukum kapal-kapal asing itu, terdapat 46 anak buah kapal yang masih dalam penahanan. PSDKP kesulitan dana untuk memulangkan ke negaranya atau menanggung kebutuhan hidup mereka. Kini para anak buah kapal itu menetap di kapal masing-masing di bawah pengawasan petugas PSDKP. Penyelundupan Selat Karimata dan perairan Kalimantan Barat merupakan beberapa kawasan yang rawan pencurian oleh nelayan asing. Perairan ini bersentuhan dengan perbatasan Indonesia, Malaysia, dan Vietnam. Semula, ikan-ikan curian dari Kalbar itu hampir semuanya diangkut ke negara asing. Namun, Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Pontianak, Kalbar, menemukan fakta baru bahwa ikan-ikan curian dari Kalbar itu kini tidak seluruhnya dibawa pulang oleh nelayan asing. ”Sebagian ikan curian justru disimpan di cold storage atau diolah di Kuching, Negara Bagian Sarawak. Saat Kalbar kekuarangan ikan, ikan curian itu akan diselundupkan lewat Kalbar,” ujar Kepala Stasiun PSDKP Pontianak Bambang Nugroho. Bambang menyaksikan sendiri kapal-kapal Vietnam bersandar di Pelabuhan Kuching dan menurunkan muatan ikan hasil curian dari Kalbar. ”Modus pencurian terus berkembang. Kini banyak kapal Vietnam yang mendapat izin dari Malaysia, tetapi menangkap ikan di wilayah RI,” katanya. Asumsi Bambang terbukti saat penangkapan mobil boks pengangkut ikan asal Malaysia oleh Kepolisian Resor Kota Pontianak, April lalu. Polisi menyita sembilan ton ikan beku asal Malaysia dari sebuah mobil boks. Pemilik ikan, Hengky (37), mengakui ikan itu berasal dari Malaysia, tetapi merupakan barang pembelian dari warga sekitar perbatasan RI-Malaysia.

Di Maluku Utara, berdasarkan hasil survei Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), pada Desember 2011 pencurian ikan marak terjadi di perairan Morotai, Halmahera Tengah, dan Halmahera Selatan. ”Di kawasan Patani, Halmahera Tengah, kami temukan sekitar 300 kapal nelayan asal Filipina yang sandar saat musim panen ikan tuna,” kata Direktur Walhi Maluku Utara Ismed Sulaiman. Ismed mengungkapkan, nelayan Filipina beroperasi dengan kapal berukuran besar dengan bobot lebih dari 30 GT. ”Ini tak seimbang dengan kapal-kapal pengawas aparat yang tidak bisa beroperasi saat gelombang tinggi. Dengan kapal-kapal besar itu, nelayan asing selalu lolos dari kejaran patroli,” katanya. Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo mengakui pengawasan Kementerian Kelautan dan Perikanan masih amat minim. Dibutuhkan kerja sama dengan Kepolisian RI dan TNI Angkatan Laut. Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Syahrin Abdurrahman mengemukakan, pihaknya hanya mempunyai 24 kapal pengawas dari idealnya 90 kapal. Itu pun rata-rata sudah berusia 8-10 tahun. Waktu operasi pengawasan juga sangat terbatas akibat keterbatasan anggaran dan suplai bahan bakar minyak. (APA/AHA/MHF/INK/LKT) Sumber
“Sebab itu diri manusia merupakan pusat pertarungan. Apa bukan siapa, dan siapa bukan apa. Apakah arti apa dalam siapa itu? Bagaimanakah siapa tetap siapa dalam apa? Apakah apa “apa-siapa” dan “siapa-apa “itu? Jangan dikira bahwa dalam diri manusia tidak ada apa-apa!”
Drijarkara,SJ – Basis Februari 1954 
1. Pendahuluan
“Jangan dikira bahwa diri manusia tidak ada apa-apa!”. Begitulah seruan Prof.Dr.N.Driyarkara, SJ terkait permenungannya mengenai pribadi manusia yang tertuang dalam Basis Keluaran Februari 1954. Apa sebenarnya yang mau dikatakan Driyarkara mengenai pribadi manusia? Ia menyebut manusia sebagai kesatuan yang tunggal (Bhinneka Tunggal), atau lebih tepatnya dwitunggal antara badan (materia) dan Roh. Kesatuan dari materia dan Roh mengandung paradoksal, namun merupakan hakekat diri manusia. Hakekat manusia sendiri secara keseluruhan tidak hanya menunjuk pada dwitunggal tersebut tetapi juga,pada kondisinya yang berada ditengah dunia ini. Kondisinya yang bukan merupakan pengada yang sendirian di dunia ini, hanya dapat diketahui berkat hubungannya dan dalam hubungannya dengan tiga hal, yakni: Hubungannya manusia dengan dunia jasmani (hubungan ke bawah); 2)sesamanya (hubungan, horizontal); dan Tuhan (Hubungan ke atas, transendental). Ketiganya hanya bisa dibedakan tetapi tidak bisa dipisahkan.
Manusia sebagai kesatuan antara materia dan Roh ini mengandung suatu pemahaman bahwa manusia merupakan makhluk yang paradoksal. Manusia adalah Roh yang membadan, maka sebagi Roh, ia dimengerti sebagai pribadi. Pribadi artinya berdiri sendiri. Namun, sebagai manusia, ia tidak dari diri sendiri. Inilah sifat paradoksal manusia yang pertama. Sementara sifat yang paradoksal kedua yang mengikuti: manusia sebagai pribadi yang “bersemayam” dalam dirinya sendiri merupakan makhluk sempurna. Namun, disamping kesempurnaannya itu, ia sekaligus tidak sempurna.
Karya tulis ini akan berbicara mengenai keseluruhan dimensi manusia di atas, dengan bertolak pada tulisan Driyarkara sendiri “Apa dan Siapa – Percikan Permenungan atas Pribadi Manusia” yang sebelumnya ditulis beliau dalam majalah Basis Edisi 1954, sebagai sumber utama. Tulisan ini akan dibagi menjadi lima bagian yakni; 1)Pendahuluan, berisi garis besar permenungan filofosis Driyarkara mengenai pribadi manusia; 2) Kesatuan Tubuh dan Roh, yang akan menjelaskan secara rinci bagaimana kesatuan antara prinsip materi (apa) dan prinsip Roh (siapa); 3) Hubungan Manusia dengan “Yang Lain”, yang akan memberikan penjelasan mengenai “dunia interaksi” manusia sebagai suatu kesatuan, yakni, interaksi manusia dengan dunia jasmani, interaksi manusia dengan sesamanya, dan interaksi manusia dengan Tuhan; 4)Konsekuensi Manusia sebagai Roh yang Membadan, yang menunjuk pada pemahaman  Driyarkara mengenai segala hal paradoksal yang terjadi dalam dan melalui manusia sebagai roh yang membadan. Adapun berbagai hal paradoksal meliputi, manusia sebagai makhluk yang sempurna sekaligus tidak sempurna,serta manusia sebagai makhluk otonom sekaligus tergantung; 5)Kesimpulan, dimana penulis mencoba untuk menyimpulkan pandangan Driyarkara mengenai manusia.
2. Kesatuan Tubuh dan Roh
(Si)apakah manusia itu?. Pertanyaan ini tidak akan pernah sampai pada jawaban yang memadai. Karena manusia  sudah merupakan suatu problem bagi dirinya sendiri, sebuah rahasia besar dan suci, menurut Driyarkara. Manusia sebagai rahasia besar tidak akan pernah dapat dijangkau pengertiannya sampai ketitik penghabisan.
Meskipun demikian, rahasianya tidaklah menakutkan melainkan justru semakin menarik sehingga mengajak kita untuk terus menyelidikinya. Permenungan filosofis mengenai manusia adalah salah satu cara menyelidiki rahasia  yang tak terjangkau itu.
Secara filosofis, manusia dilihat dari adanya di dalam dunia. “Di dalam dunia” artinya manusia merupakan materi yang berada dalam dunia. Dia tidak mungkin berada dalam dunia jika tidak memiliki jasmani atau materi. Untuk hal ini, Driyarkara memberikan pernyataannya: “Bukankah ia mempunyai aspek-aspek yang mirip dengan barang-barang lainnya? Bukankah ia barang badani dan karenanya mempunyai sifat-sifat barang-barang badani juga?”. Dengan demikian, manusia merupakan makhluk yang berbadan (ber-materi). Pertanyaan yang muncul, apakah manusia hanya berupa benda jasmani saja? Bagaimana lantas membedakan manusia dengan tumbuhan, hewan serta benda ciptaan manusia?.
Manusia bukan hanya berupa “apa” (apa menunjuk kepada prinsip materi manusia) melainkan juga “siapa” (merujuk pada prinsip Roh, pada pribadinya). Dengan mudah kita dapat melihat hal tersebut dari cara manusia membedakan dirinya dengan benda lainnya. Ketika mempertanyakan pohon, kita akan berkata demikian:”apakah pohon itu?”. Namun, tidak demikian ketika kita mempertanyakan diri kita sebagai manusia. Kita akan memakai kata “siapa” untuk mempertanyakan manusia:”siapakah manusia?”.
Mengapa kita memakai “siapa” untuk menunjuk pada pengertian mengenai manusia?. Jawabannya akan kita dapati jika kita melihat dan merefleksikan bagaimana cara berada manusia di dalam dunia. Cara berada manusia di dalam dunia berbeda dengan cara berada benda-benda lainnya. Sebagai “apa” memang ia tidak ditentukan oleh dirinya sendiri. Namun, sebagai “siapa”, ia adalah pribadi yang “memiliki” dirinya sendiri. Dapatlah dikatakan bahwa manusia “bersemayam di dalam dirinya sendiri”. Artinya, tidak hanya “berada” melainkan juga “berkuasa”. Ia berkuasa dan memiliki diri sendiri secara formal melalui pengertian dan kemauannya (karena cipta dan karsanya). Dengan adanya pengertian dan kemauannya, manusia tidak lagi hanya dimengerti sebagai “apa” saja melainkan “siapa”. Ia merupakan kesatuan keduanya: kesatuan antara materi dan Roh, yang sebenarnya merupakan dua prinsip yang saling berlawanan. Bagaimana menjelaskan kesatuan ini?
Manusia pertama-tama harus dimengerti sebagai Roh. Namun tidak bisa disebut sebagai roh melulu, karena ia membadan, ia adalah roh yang bermateria. Dalam bentuk materialnya ia memiliki ciri-ciri sebagai berikut:1) ia adalah makhluk yang terikat dalam tempat dan waktu;2)ia merupakan “individu” dalam suatu jenis (soort);3)ia merupakan makluk yang tumbuh dan merasa. Sementara dalam diri yang material itu, manusia benar-benar merupakan roh. Sebagai roh, dia mengatasi (melebihi) kejasmaniannya. Sebab itu manusia sebagai “siapa” melebihi diri sendiri sebagai “apa”. Roh memungkinkan manusia untuk mengambil jarak, merefleksikan hidup serta benda-benda yang ada bersama dengannya di dalam dunia. Dengan kata lain, roh memungkinkan kesadaran manusia akan dirinya serta apa yang ada diluar dirinya yang terealisasikan lewat berbagai cipta dan karsanya.  Pemaparan diatas, dengan sangat jelas menggariskan batas cara berada manusia dalam dunia dengan cara berada benda-benda lainnya. Benda-benda lainnya tetap asing dalam dirinya sendiri, karena tidak dapat “bersemayam” dalam diri sendiri, karena tidak dapat memiliki diri sendiri.
3. Hubungan Manusia dengan Yang Lain
“Yang lain” menunjuk kepada tiga subjek yakni; alam, sesama, dan Tuhan. “Yang lain” merupakan salah satu prinsip terpenting yang memungkinkan adanya pengertian mengenai seorang manusia. Driyarkara sendiri mengakuinya lewat pernyataan: “Hidup kita di dunia ini tak dapat dipikirkan kecuali dalam dan dengan ketunggalan dengan barang-barang lainnya!”. Apa maksud pernyataan tersebut?. Penulis melihat bahwa Driyarkara ingin menempatkan situasi dialektika sebagai bentuk relasi antara manusia dengan “yang lain”. Aku (manusia) hanya bisa dimengerti sebagai manusia jika “yang lain” ada, begitupun sebaliknya, “yang lain” tidak akan dimengerti sebagai “yang lain” jika tidak ada aku (manusia).
“Ingatlah apa yang telah kita kemukakan tentang “bersemayamnya” manusia dalam diri sendiri. Dengan ini nampaklah bahwa dia adalah makhluk yang tertinggi di dunia ini. Dialah yang meninggikan derajat barang-barang lainnya. Sebab dengan hidupnya di dunia manusia memberikan keluhurannya kepada barang-barang lainnya”
Pernyataan Driyarkara di atas setidaknya menunjukkan karakteristik dialektika antara manusia dengan “yang lain” (yang lain di atas merujuk pada benda-benda jasmani/alam). Hakekat manusia sebagai roh yang membadan, atau sebagai “yang bersemayam” dalam dirinya sendiri hanya dapat dimengerti saat manusia memberikan keluhuran kepada benda jasmani/alam. Ia disebut sebagai makluk yang tertinggi di dunia karena ia dapat meninggikan derajat barang-barang lain. Dengan kata lain, ia lewat hakekatnya sebagai makhluk yang besemayam (berkuasa) dan tertinggi di dunia hanya dapat dikenali lewat transendensi dirinya (lewat pemberian makna/keluhuran/nilai terhadap benda alam). Sebaliknya, benda-benda jasmani/alam tidak memiliki artinya tanpa pemberian dari manusia. Pemberian makna/keluhuran bagi benda-benda jasmani/alam sebenarnya dilakukan manusia sebagai salah satu cara untuk mencapai kesempurnaan diri manusia bersangkutan. Benda jasmani/alam dipandang sebagai alat untuk merealisasikan pemenuhan kebutuhan hidup manusia dalam rangka mencapai kesempurnaan.
Sementara untuk jenis relasinya yang kedua, yakni relasi manusia dengan manusia lainnya dapat dijelaskan sebagai berikut. Manusia adalah makhluk yang otonom, artinya dia merupakan kesatuan yang berdiri sendiri. Namun, setiap manusia hanyalah seorang manusia (individu) saja. Artinya, dia hanya satu realisasi jenis manusia. Tiap-tiap individu adalah satu kodrat dalam suatu kodrat. Bisa dikatakan dengan lebih sederhana, manusia individu hanyalah satu bagian dari keseluruhan umat manusia. Ia mewakili jenisnya. Hal ini menunjukkan bahwa manusia hadir di dalam dunia sebagai individu utuh namun secara jenis, ia hanya satu dari keseluruhan manusia dalam dunia. Maka, relasi dengan individu manusia lainnya juga tidak terelakkan. Menggambarkan hubungan relasi manusia individu dengan sesamanya, Driyarkara menulis:
”Hubungan kita dengan sesama manusia kita alami dan kita rumuskan  sebagai hubungan antara Engkau dan Aku sedangkan hubungan kita dengan binatang-binatang misalnya, tidak mungkin dicetuskan dengan Engkau-Aku. Perbedaan ini antara lain disebabkan karena hubungan kita dengan binatang-binatang dan benda-benda tidak kita rasakan sebagai terikat oleh suatu kewajiban atau rasa hormat” 

Di sini jelas terdapat perbedaan antara cara manusia berelasi dengan alam, dan cara
manusia berelasi dengan sesama manusia. Relasi manusia dengan benda jasmani/alam adalah relasi yang diharapkan menjadi salah satu jalan manusia untuk mencapai tujuan tertentu (memenuhi kebutuhan agar dapat mencapai kesempurnaan). Mengenai hal itu, manusia kemudian memberikan makna/keluhuran bagi benda-benda jasmani/alam. Pemberian makna/keluhuran bagi benda jasmani/alam ini disebut sebagai kebudayaan bagi Driyarkara Sementara relasi manusia dengan sesamanya, menunjukkan suatu sikap hormat, dimana manusia dianggap sebagai manusia dan bukanlah alat untuk mencapai tujuan dari manusia lainnya. Maka, mengikuti Martin Buber, ia menyebutnya sebagai relasi Engkau-Aku. Persamaan antara kedua relasi ini tertuang dari kondisi relasi yang berdialektika. Relasi Engkau-Aku memungkinkan “Aku” memahami diriku sebagai “Aku” dan bukan “Engkau”. Begitu juga sebaliknya, keberadaanku memungkinkan “Engkau” memahami dirimu sebagai “Engkau” yang berbeda daripadaku namun dengan derajat dan kodrat yang sama.
Apakah hanya dua relasi di atas saja yang menggambarkan realitas manusia? Masih mengikuti Buber, Driyarkara menunjuk pada satu realitas personal yang mendasari segala realitas relasi lainnya yakni, Tuhan. Tuhan merupakan sumber rahasia manusia yang sedalam-dalamnya. Sudah dikatakan sebelumnya, bahwa manusia adalah roh yang membadan. Relasi dengan benda alam dan sesama hanya dimungkinkan dengan dan melalui adanya badan (materi) lantas bagaimana dengan pengertian roh secara menyeluruh? Bagi Driyarkara, untuk dapat mengerti roh dengan sempurna, kita harus memahami roh itu sendiri dalam hubungan dengan sumber Adanya, yakni Tuhan itu sendiri. Hubungan dengan Tuhan merupakan dasar dari hubungan manusia dengan benda jasmani dan sesama. Hubungan dengan benda jasmani dan sesamanya mendapat kesempurnaan dalam hubungan manusia dengan Tuhan.



4. Konsekuensi Manusia sebagai Roh yang Membadan
Setelah pemaparan di atas mengenai manusia sebagai roh yang membadan serta seluk
beluk relasinya, kita akan melangkah maju ke dalam konsekuensi manusia sebagai roh yang membadan. Adalah lebih baik, jika kita memulai dengan pembagian dua dimensi manusia yakni Roh dan badan. Berbicara mengenai roh, maka kita berbicara mengenai kesempurnaan diri manusia yang berdiri sendiri, “yang bersemayam dalam diri sendiri” dan yang berdaulat atas dirinya sendiri. Sementara berbicara mengenai dimensi material manusia, kita mau tidak mau harus menyinggung soal keterbatasan manusia. manusia sebagai makhluk berbadan menerima “paksaan” juga. Artinya, dia ditentukan oleh hukum-hukum biologik. Selain itu, ia hanya merupakan satu individu dari keseluruhan jenisnya. Artinya dia tidak sempurna. Dari perbedaan di atas dan dari penjelasan pada pembahasan sebelumnya kita dapat melihat beberapa konsekuensi yang mengikuti keberadaan manusia sebagai roh sekaligus badan ini.
Pertama, manusia adalah makhluk yang berdiri sendiri tapi tidak sempurna dan tidak dari diri sendiri. Ia tidak sempurna karena manusia tidak dapat dipikirkan kecuali sebagai suatu bagian dalam keseluruhan, sebagai suatu momen dalam evolusi yang maha besar. Meskipun pada dasarnya, ia adalah makhluk yang otonom namun ia masih tidak dapat dipikirkan kecuali dalam kesatuannya dengan yang lain.
Manusia adalah roh, dan untuk itulah dia disebut Pribadi: berdiri sendiri. Namun keadaan berdiri sendiri ini bukanlah dalam dirinya sendiri melainkan suatu pemberian. Adanya diberikan terus-menerus, tiap-tiap detik. Diberikan oleh SUMBER segala ada,  yang dengan mutlak berada dari diri sendiri, yaitu Tuhan. Jadi, meskipun dia berdiri sendiri, ia bukanlah makhluk yang berada dari dirinya sendiri.
Kedua, manusia adalah sempurna sekaligus tidak sempurna. Ia sempurna karena “bersemayam dalam diri sendiri”. Bersemayam dalam diri sendiri artinya berkuasa atas diri sendiri, menentukkan diri sendiri, memastikan diri sendiri, memastikan perbuatannya dengan merdeka, menentukkan nasibnya sendiri dengan memilihnya sendiri, bebas merdeka dari paksaan dan tekanan. Sementara ia menjadi tidak sempurna karena tergantung pada yang lain, yakni dunia material, sesama, dan Tuhan. Menurut Driyarkara problematika mengenai pencampuran kesempurnaan dan ketidaksempurnaan ini digambarkan sebagai air dingin yang sedang menjadi panas, atau barang cair yang sedang menjadi beku, akan tetapi masih ditengah jalan! Manusia sebagai pribadi adalah sempurna, akan tetapi juga masih memiliki kemungkinan untuk menjadi sempurna. Kesempurnaan ini sangat terkait erat dengan pengolahan pribadi manusia sebagai yang berdaulat. Manusia dapat mempergunakan kedaulatan untuk mencapai kesempurnaan tetapi dapat juga memakainya untuk menjerumuskan diri ke dalam kejahatan. Dengan demikian, manusia adalah tesis yang dapat menjadi antitesisnya!


5. Kesimpulan
Melihat pemaparan Driyarkara mengenai manusia, kita dapat mengambil kesimpulan ia melihat manusia sebagai suatu kesatuan utuh antara badan dan roh dengan segala konsekuensi yang mengikuti pandangannya tersebut. Yang menarik dari pemaparannya, Driyarkara jelas memperhatikan kedua dimensi manusia baik badan maupun roh tanpa mengucilkan konsekuensi yang mungkin muncul berkenaan dengan keduanya. Manusia sebagai badannya dilihatnya sebagai yang memungkinkan manusia untuk ada di dalam dunia, berhubungan dengan alam dan sesama. Namun, karena ia adalah bagian dari dunia materi maka konsekuensinya, manusia terikat dengan hukum-hukum materi  termasuk dorongan-dorongan alamiah badan(sama halnya dengan hewan dan tumbuhan). Dengan Roh, manusia dapat melampaui hukum serta dorongan alamiah nya sebagai makhluk materi. Roh memungkinkan manusia berdaulat atas dirinya sendiri dan mengusahakan kesempurnaan pribadinya. Usaha untuk mencapai kesempurnaan sebagai pribadi, didapat manusia dengan melakukan apa yang baik, yang susila. Atau yang disebut Driyarkara sebagai yang wajib. Dan usaha ini hanya dapat dimungkinkan jika manusia tidak hanya dimengerti sebagai materi melainkan sebagai roh yang bermateri.
Demikianlah sekilas mengenai pemikiran Driyarkara mengenai manusia. Memang diakui penulis bahwa pemikiran Driyarkara sangat kaya makna dan pengertian sehingga mencoba memahami pemikirannya tidak dapat dilakukan hanya dengan menuliskan kembali apa yang sebelumnya pernah ditulisnya. Namun, hal tersebut bukanlah menjadi persoalan utama. Penulis setuju dengan Driyarkara saat mengatakan bahwa “memahami kehidupan manusia secara filosofis bukanlah untuk mengupas rahasia manusia dengan habis-habisan, sehingga tak ada Rahasis lagi. Tujuan kita hanyalah agar supaya kita lebih insyaf akan keagungan manusia, justru karena dia tetap Rahasia bagi diri sendiri”. Tulisan ini hanyalah salah satu bagian dari upaya yang ingin dilakukan Driyarkara tersebut.
Sumber

4 Keajaiban Langit di Bulan Juni


Bulan Juni ini adalah bulan yang istimewa bagi para penggemar skywatching. Ada banyak fenomena astronomi mengagumkan yang bisa dilihat di bulan ini.

Dari sekian fenomena astronomi yang terjadi, setidaknya ada tiga yang cukup istimewa dan satu yang tergolong langka. Apa saja? Berikut fenomena-fenomena tersebut :


1. Gerhana Bulan

Gerhana Bulan Sebagian akan terjadi pada 4 Juni 2012. Fenomena ini bisa dilihat oleh seluruh warga Indonesia.

Gerhana Bulan terjadi saat Matahari, Bumi, dan Bulan terletak pada posisi segaris.

Puncak gerhana kali ini akan terjadi pukul 18.03 WIB. Wilayah yang bisa menyaksikan seluruh proses gerhana adalah Indonesia Timur.

2. Transit Venus

Transit Venus adalah fenomena langit paling dinanti tahun ini. Fenomena ini tergolong langka dan baru akan terjadi lagi tahun 2117.

Transit Venus adalah mampirnya Venus di muka Matahari. Venus berada di antara Bumi dan Matahari. Fenomena ini akan terjadi pada 6 Juni 2012 pukul 05.14-11.50 WIB.

Untuk mengamati fenomena kini, pengamat wajib menggunakan teleskop yang telah dilengkapi dengan filter agar tak merusak mata. Wilayah terbaik untuk pengamatan adalah di Indonesia Timur, seluruh proses transit bisa terlihat.

Kalangan astronom memanfaatkan fenomena ini untuk melatih diri mengonfirmasi keberadaan planet dengan metode transit.

3. Segitiga Bulan, Venus, dan Jupiter

Tanggal 18 Juni 2012, Venus, Bulan, dan Jupiter akan membentuk formasi segitiga. Ini bisa dilihat dengan mata telanjang.

Venus akan tampak terang dengan magnitud -4,08, sementara Jupiter bermagnitud -1,87. Jadi, bisa dilihat dengan mata telanjang.

Fenomena ini akan terlihat menjelang fajar, sekitar pukul 05.00 WIB. Jadi, waktu untuk melihatnya sangat singkat. Sedikit saja terlewat, fenomena sudah akan "hilang" karena cahaya Matahari yang terang.

4. Segitiga Bulan, Mars, dan Saturnus

Pada tanggal 27 Juni 2012, planet bercincin atau Saturnus akan tampil dengan Bulan dan Mars membentuk segitiga.

Fenomena ini juga bisa dilihat dengan mata telanjang, mulai setelah Matahari tenggelam hingga sekitar pukul 22.00 WIB.


Sumber